Cerita mengenai kekagumanku kepada seseorang yang baru kukenal. Memang kagum ku ini bukanlah apa apa.bagai punguk merindukan bulan dan ingin mendekap sbuah gunung dengan pemandangan yang indah. Dia membuatku melupakan segalanya tentang apa yang dulu aku rasakan. Bak saat yang tepat mengisi angan angan ku yang mulai gila tentang nya. Itulah aku, dari itu aku merubah gayaku menjadi ketika aku berada di SMA dulu. Apakah ini gila ku atau memang otakku agak serong dari sumbu X dan Y. Mungkin aku bukanlah tipenya, yah ginilah aku apa adanya yang tak terlalu muluk muluk melihat seseorang. Karena dia lah yang memberi ku semangat untuk menyelesaikan tugas dan proyek dosen.
Seorang pengagum yang tak layak dikagumi adalah pengagum yang ingin dikagumi. Namun aku berasa kagum dan mengagumi benar akan hal-hal yang tak dikagumi dari seorang pengagum. Meski mereka yang di sana tak terkagumi olehku sebagai seorang pengagum yang kagum terhadap hal-hal yang tak dikagumi dari seorang pengagum yang ingin dikagumi..
Seorang pengagum yang tak layak dikagumi adalah pengagum yang ingin dikagumi. Namun aku berasa kagum dan mengagumi benar akan hal-hal yang tak dikagumi dari seorang pengagum. Meski mereka yang di sana tak terkagumi olehku sebagai seorang pengagum yang kagum terhadap hal-hal yang tak dikagumi dari seorang pengagum yang ingin dikagumi..
Ada sesuatu penuh kekaguman
yang kukagumi di balik ketidakkaguman seorang pengagum. Menimbulkan decak kagum
padaku, namun tidak bagi mereka yang tak mengagumi sisi lain dari seorang
pengagum yang kagum pada hal-hal, yang menurut mereka tak mengagumkan.
Namun aku juga kagum terhadap orang yang tidak mengagumiku sebagai seorang pengagum hal-hal yang hanya aku yang mengaguminya.. benar-benar terkagum-kagum! Lebih mengagumkan sekali, bahwa mereka justru mengagumi hal-hal yang tak kukagumi. Sama seperti rasa kekagumanku pada seorang pengagum yang ingin dikagumi, yang ternyata baru aku sadari jika aku pun ingin dikagumi seperti seorang pengagum itu. Namun sebenarnya aku hanya ingin dikagumi dengan berjuta rasa kagum dari hal-hal yang tak kukagumi, sementara itu aku bahkan tak memiliki satu pun hal-hal yang tak dikagumi agar mereka mengagumiku. Karena bagiku, semua yang ada di dunia ini adalah pengundang kekaguman dari Zat Yang Maha Mengagumkan yang wajib kita kagumi. Jadi sebenarnya apa arti kekaguman mereka terhadap hal-hal yang tak kukagumi yang sesungguhnya tak ada? Kagum yang semu dan sangat tidak realistis..
Aih, namun ternyata aku pun
kagum pada kekagumanku sendiri terhadap seorang pengagum dari hal-hal yang tak
dikagumi mereka, yang memiliki rasa ketidakkaguman terhadap hal yang justru
dikagumi oleh pengagum-pengagum yang punya pendapat berbeda tentang eksistensi
‘kagum’ seperti halnya aku sebagai salah seorang pengagum itu, yang sesungguhnya
pengagum yang kukagumi itu tidak memilikinya.. Ah, benarkah itu? Apa benar
begitu rasa kagumku padanya?
Apa yang mereka kagumi dari
seorang pengagum yang mengagumi pengagum yang dikagumi karena ketidakkagumannya
atas hal-hal yang belum tentu tidak mengagumkan mereka dan belum tentu
mengagumkan bagi mereka-mereka yang lain?
Dan apa yang membuatku kagum
dari seorang pengagum yang mengagumi hal-hal yang tak mereka kagumi yang bisa
saja pengagum itu tidak memilikinya, dan apa yang membuatku tidak kagum
terhadap rasa-ingin-dikagumi yang dimiliki oleh pengagum itu, yang ternyata
justru itulah suatu ketidakkagumanku yang menimbulkan kata ‘kagum’ di balik
decak kagum orang lain?
Mungkinkah
rasa-ingin-dikagumi yang dimiliki oleh pengagum-pengagum seperti pengagum itu
harus aku masukkan dalam daftar ketidakkagumanku agar mereka bisa mengagumiku
dengan penuh kekaguman? Namun apakah rasa-ingin-dikagumi-ku akan dimasukkan ke
dalam daftar ketidakkaguman oleh mereka yang mengagumiku dari hal-hal yang tak
kukagumi? Dan andai pengagum yang kukagumi itu tidak memiliki
rasa-ingin-dikagumi, apa yang harus aku masukkan dalam daftar ketidakkagumanku
agar mereka tetap berdecak kagum mengagumiku? Apakah aku harus mengagumi
rasa-ingin-dikagumi-nya dan tak mengagumi ketidakkagumannya yang ternyata
adalah ketidakkaguman atas ketidakkaguman atas ketidakkaguman atas
ketidakkaguman dan atas ketidakkaguman mereka yang lain? Untunglah,
ketidakkaguman atas ketidakkaguman itu hanya andai-andaianku belaka, dan selain
itu, hal itu tak penting juga untuk tak dikagumi.
Sekarang aku hanya menjalani
kekagumanku atas ketidakkagumannya pada rasa-ingin-dikagumi yang ternyata..
AKU-lah salah seorang di antara KAMU-KAMU SEMUA yang memilikinya???
Arrgghh!!!
Jadi kesimpulannya?? Kau
hanya dapat menyimpulkannya jika kau mengerti bagaimana jalan pikiranku dari
apa yang aku tulis, lalu bercerminlah dengan rasa kekaguman atas
ketidakkagumanmu. Bisakah kau?
Aku mengagumimu
walau kau tak tau….!!!!







Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.