Goresan kecil dari hape seorang teman.

13:50
Dedicate to my strong, tigh and lovely Mom

Rabu, 2 September 2009 : 22.00 WIB
“Uhuk uhuk uhuk….. sialan!!!!” Umpatku dalam hati. Kulempar selimut tebal yang membungkus tubuh menggigilku. Setengah sadar kutuangkan segelas air mineral dari galon air mineral di sudut kamarku.
“Uhuk uhuk…..hremmm…uhuk uhuk……“ kutelan potongan salbutamol yang magrib tadi sudah kuminum separo.
“Uhuk….uhuk…uhuk….Ya Allah, ampun deh. Apaan seh batuk ini kok tidak reda-reda. Uhuk uhuk…..uhuk..uhuk” kembali aku berlindung dari dinginnya udara Malang di bawah selimut super tebalku.
“Tit…Tit…”
“Hadoh sapa seh malem-malem sms” dengan malas kubuka sms yang ternyata dari ibu.
“Iik lagi ngapain? Kok g bales smsnya ibu? Sakit ta?”
Aku teringat 1 jam lalu ibu mengirim sms dan belum aku balas. Kulemparkan handphone itu sekenanya di kasur tempatku berbaring.
“Uhuk…uhuk….uhuk…besok saja aku balas” kurapatkan selimutku. Badanku mulai menggigil terserang udara dingin yang sangat tiba-tiba merasuk sampai ke sum-sum dan sendiku. Gigiku gemelutuk menahan sakit di bagian dada.

Efek obat. Sudah biasa. Mungkin hari ini aku terlalu banyak mengkonsumsi obat. Mau bagaimana lagi, bisa mati sesak napas aku kalau tidak mengkonsumsi obat itu. Dan batuk ini, sungguh menyakitkan tenggorokan dan paru-paru. Ampun deh, berasa kayak pecandu narkoba saja.
Seorang temanku pernah menegurku. Katanya aku ini tidak ada bedanya dengan pecandu narkoba. Tiap saat kemana-mana harus bawa obat. Kalau sudah kumat harus minum obat alias dopping. Dengan sangat idealisnya dia menceramahiku ini itu untuk belajar tidak ketergantungan pada obat-obatan itu. Hingga suatu saat aku jatuh pingsan saat bersamanya. Dalam penyakit asma kita mengenalnya dengan istilah “kumat”. Esoknya temanku itu menghampiriku dan berkata :
“Ain, pokoknya kamu harus selalu sedia obat di kosan. Jangan sampai kehabisan!! Pokoknya kalau ada apa-apa langsung hubungi aku…bla bla bla” heh, aku hanya tersenyum menanggapi celoteh temanku yang berbanding 180° dengan wejangannya tentang pecandu narkoba beberapa saat yang lalu. Teman yang aneh.

Kamis, 3 September 2009 : 08.20 WIB
    “ Hhhhhh…….sudah tidak begitu sesak lagi…”aku beranjak dari tempat tidurku. Kuambil kipas  bambu yang kubeli di kereta api ekonomi saat perjalanan pulang beberapa waktu yang lalu. Kubuka tirai jendela yang berada tepat di atas tempat tidurku.
    “ Wah….sudah siang ” kembali aku merebahkan badan di tempat tidurku sambil menggerak-gerakkan kipas bambu untuk memperoleh sedikit kesejukan. Pagi ini panas sekali. Aq tatap langit-langit kamarku.
    “ Kemarin aku tidak sholat magrib, isya’ dan pagi ini tidak sholat subuh. Mau bagaimana lagi, aku khan sakit ” batinku membela diri atas kelalaianku menjalankan kewajibanku menegakkan sholat 5 waktu.
    Dengan malas aku meraba-raba sakitarku untuk mencari handphoneku. Ada. Aku lihat layar ponsel berchasing hitam itu.
    “5 misscall”
    “ Ibu pasti khawatir. Nanti aq akan balas pesannya ” kembali aq meletakkan ponsel itu sekenanya.
    “Ah…..panasnya…uhuk uhuk….” Sisa-sisa penyakit tadi malam ternyata masih bersarang di tenggorokannku.
    “Tok..tok tok…” Aku melihat pada pintu kayu yang berada di seberang tempat tidurku itu. Gagang pintu itu digerakkan dari arah luar, dan pintupun sedikit terbuka.
    “ Aq lupa mengunci pintu ya” batinku tanpa beranjak dari posisiku sekarang.
    “ Assalamualaikum….” Wajah bulat ibu muncul dari balik pintu yang terbuka.
    “ Lho ibu, sama siapa bu?” lekas-lekas aku beranjak dari tempat tidurku menyambut wanita paruh baya itu. Kucium tangan kanannya, dan diciumnya pipiku kiri dan kanan.
    “Smsnya ibu kok tidak dibalas? Kamu tidak apa-apa?” tanyanya sambil duduk di tempat tidurku yang berantakan.
    “ Tidak apa-apa bu, iik sehat kok, tadi malam memang agak sakit, tapi sekarang  sudah tidak apa-apa. Ibu bawa apa aja seh ?” tanyaku sambil membuka bungkusan-bungkusan kresek yang dibawa ibuku dari rumah.
    “ Itu nasi, ibu tidak masak, tadi tidak siap-siap, pokoke habis subuh, ibu langsung berangkat ke Malang. Takut iik kenapa-napa.”
    “Haduh ibu ini repot-repot saja, iik khan tambah khawatir kalau ibu ke Malang sendirian.” Aku mengeluarkan bungkusan-bungkusan nasi dan lauk pauk yang di bawakan ibu.
    “Kemarin gimana kata dokternya? Hasil tes darahnya bagaimana?” Tanya ibu sambil melepas sweter yang dipakainya
    “ Tidak apa-apa kok bu. Cuma infeksi saluran pernapasan biasa. Itu dikasih obat banyak”
    “ Habis berapa kemarin?”
    “Hmm….berapa ya, 250 ribu sudah sama obat dan priksanya” jawabku sambil beranjak menuju tempat tidurku.
    “Ya Allah, mahal sekali!!” ibu mulai berkomentar tentang biaya pengobatanku yang lumayan mahal itu. Aku menutup mata sambil kembali memberdayakan kipas bambuku untuk mendapatkan angin segar. Kurasakan ibu memijat punggungku sambil terus berceloteh ini itu tentang kekhawatirannya.
    “Ayo maem dulu, habis itu minum obat” seru ibu tiba-tiba.
    “ Iik puasa bu”
    “Tidak usah puasa dulu. Pokoke maem, minum obat, biar sembuh dulu, baru nanti puasa kalau sudah sembuh.” Aku merapatkan mataku. Hal yang paling menyebalkan berada di dalam perawatan seorang ibu saat sedang sakit adalah harus mendengarkan segala tutur tinuturnya untuk makan, minum obat, istirahat,…dan lain sebagainya.
    “ Cerewet “ gerutuku dalam hati.

Kamis, 3 September 2009 : 15.30 WIB
    “ Wah… ternyata obatnya iik kalo sakit itu belanja!!” seru ibu saat memasuki angkot  sambil menenteng belanjaan. Aku hanya tersenyum girang. Ide belanja itu tiba-tiba muncul saat keadaanku sudah agak membaik siang tadi. Beasiswaku turun, jadi aku pikir apa salahnya mengajak ibu jalan-jalan dan belanja sekedar di pasar tradisional. Tapi dasar lapar mata, jadi beli macam-macam. Mulai dari baju lebaran, mukenah, sampai baju untuk ponakanku yang masih berusia 6 bulan.
    “ Mbitom pasti lucu banget ya bu pake baju ini “ seruku sambil melihat-lihat baju yang tadi sudah kupilihkan untuk ponakanku, Bilqis, yang kujuluki mbitom atau tomat karena dia termasuk bayi yang gembul dan lucu.
    “ Iyalah, siapa dulu yang milihkan “ jawab ibu sambil tersenyum senang. Ternyata belanja memang menyenangkan. Lega rasanya melihat senyum simpul di wajah lelahnya. Seandainya aku punya lebih banyak kesempatan untuk mengukir senyum di wajah bulatnya itu. Sebersit doa-pun terucap di batinku.
    “ Ya Allah semoga dilancarkan rezekiku di hari-hari kedepannya nanti, agar aku bisa sedikit membahagiakan kedua orang tuaku terutama ibuku. Amin”.

Kamis, 3 September 2009 : 22.00 WIB
    “ Uhuk …uhuk…..uhukkk…erhmmm”
    Aku terbangun dari tidurku yang sama sekali tidak nyenyak. Nafasku memburu, rasanya lubang hidung dan mulutku ini terlalu sempit sampai udara yang masuk ke paru-paru sepertinya tidak mencukupi untuk sekedar bernafas. Tenggorokanku sakit, dadaku sesak.
    “ Oh God, not again” pintaku pada Yang Maha Pembuat Hidup. Bukan karena apa, aku hanya tidak ingin ibuku semakin bawel dan cerewet kalau tahu di malam hari keadaanku bisa sangat parah sampai tidak tidur semalaman. Aku sangat tidak ingin dipaksa ke rumah sakit seperti tahun lalu. Opname 4 hari padahal keadaanku sangat amat baik jika dibandingkan pasien yang sekamar denganku. Seperti orang bodoh saja, dengan penampilan sehat wal afiat tapi harus disuapi makan dan dijaga bapak ibu siang dan malam. Aku masih ingat betul, waktu itu juga awal bulan ramadhan seperti saat ini. Ibu dan bapak harus menjagaku di rumah sakit selama 4 hari. Tidur di lantai rumah sakit hanya beralaskan karpet tanpa bantal apalagi selimut, kadang setelah sholat tahajud dan memohon kesembuhanku, mereka tidur di masjid rumah sakit.
    Sebenarnya penyakitku tidak separah itu. Asma dan batuk bagiku adalah penyakit menahun yang sudah tidak asing merongrong tubuhku. Penyakit keturunan sejak aku dilahirkan, jadi bagiku itu bukan penyakit. Hanya saja saat aku diopname tahun lalu, dengan sangat ceroboh dokter yang menanganiku memberikan dosis obat yang berlebihan. Akibatnya aku sempat gemetaran hebat, seluruh tubuh terutama kaki dan tanganku memucat putih dan aku hampir tidak sadarkan diri. Aku masih ingat saat itu sekitar pukul 10 malam saat perawat menyuntikkan obat dan hanya selang 5 menit setelah itu aku langsung terserang kejang-kejang. Kontan semua orang jadi gempar. Ibu menangis dan bapak marah-marah karena tidak ada dokter jaga. Tapi Alhamdulillah masa kritis itu hanya berlangsung tidak lebih dari 1 jam. Setelah mendapat bantuan oksigen dan dikompres air panas, akhirnya keadaanku kembali stabil. Parahnya, kesalahan itu terulang 2 kali. Esok harinya sang dokter mengganti obat tapi lagi-lagi kelebihan dosis. Alhasil untuk kedua kalinya aku kejang-kejang dan lagi-lagi melewati masa kritis. Benar-benar dokter yang aneh.
    “Uhuk uhuk…..uhuk uhuk….ehmmm…uhuk uhukkk…” aku terduduk pasrah di tempat tidurku. Mataku ini sudah sangat berat sekali memaksa untuk dilelapkan. Tapi sepertinya penyakitku ini benar-benar tidak bisa diajak kompromi. Menyebalkan!!
    “Uhuk….uhuk…uhukk.”
    “Masyaallah in, kamu kenapa seh nak, tadi khan sudah tidak apa-apa, kok sekarang kayak gini lagi batuknya?” ibu yang terbangun dari tidurnya dengan sigap memijat punggungku dan mengoleskan balsam untuk menghangatkan tubuhku.
    “Uhuk…uhuk..tidak apa-apa kok bu. Uhuk uhuk….hermmm… Ibu tidur aja. Nanti sembuh-sembuh sendiri kok. Khan sudah minum obat”
    “Ya Allah, makanya jangan makan yang aneh-aneh kalo sehat itu….” Kulihat wanita paruh baya itu mulai menitikkan air mata melihat penderitaan buah hatinya ini.
    “Ibu ini tidak bisa mengobatkan iik ke dokter yang bagus. Kalau sakit gini, ibu jadi miris karena tidak bisa cepat-cepat mengobatkan ke rumah sakit….” Dalam tangisnya itu ibuku masih memijat punggungku dengan kasih. Ini kali kedua ia menangis dalam sehari ini.
    Saat menjadi imamku waktu sholat magrib tadi, beliau juga menangis dalam sholatnya. Aneh memang, tiba-tiba saja sore tadi kondisiku drop. Virus batuknya beraksi lagi, padahal seharian aku berkeliling pasar dengan ibu dan saat itu aku baik-baik saja. Memang penyakit yang aneh!! Alhasil waktu magrib tiba aku berjama’ah dengan ibu di kamar kosanku. Mungkin karena aku terus-terusan batuk, ibu sampai menangis miris. Dan sekarang hampir tengah malam ini beliau menangis lagi karena aku. Hhhh..hh padahal baru saja tadi siang kami bersenang-senang.
“Ya Allah, cepatlah berikan aku kesembuhan dan kesehatan agar tidak menjadi beban pikiran orang tuaku yang sangat menyayangiku ini Ya Rabb…”

Jumat, 4 September 2009 : 12.00 WIB
    Aku sedang mengerjakan laporan Kuliah Kerja Profesi atau KKP di rental depan kosanku. Umat muslim laki-laki sedang bersiap-siap menjalankan ibadah Sholat Jumat, tapi karena yang menjaga rental seorang wanita, jadi rentalnya tidak tutup. Laporan ini harus segera diselesaikan karena minggu depan adalah batas pengumpulannya. Karena rencananya besok aku akan pulang ke rumah asalku di Trawas, Mojokerto bersama ibu, jadi laporan ini harus segera dirampungkan sekarang.
    “Sudah selesai ta?” sedikit kaget aku menoleh ke arah suara yang menegurku itu.
    “Lho, sejak kapan ibu disini?” tanyaku melihat ibu yang sudah berada di belakangku.
    “Dari tadi” jawabnya sambil tersenyum. Aku mengatakan kalau laporan ini masih kurang sedikit lagi yang harus diselesaikan. Aku kembali melanjutkan mengetik.
    Tiba-tiba terbersit sebuah ide di kepalaku. Kenapa aku tidak mengerjakan laporanku di rumah kakakku saja? Disana khan ada computer, jadi aku dan ibu bisa sekalian menjenguk keponakanku yang lucu itu.
    “Bu bagaimana kalau kita ke Bangil saja. Memberikan baju barunya mbotom sambil berkunjung. Khan sudah lama tidak ketemu mbotom. Nanti iik selesaikan disana laporannya. Nah besok baru kita pulang ke Trawas. Gimana bu?”
    “Naek apa jam segini?”
    “Keretalah. Jadwal kereta ke Bangil itu kalau siang jam 12.35 masih sempat kok bu, kalau kita berangkat sekarang. Gimana bu?” jawabku bersemangat.
    Mungkin dilandasi rasa kangen yang sangat amat pada satu-satunya cucu perempuannya ibu langsung setuju. Kamipun segera meninggalkan rental pengetikan computer itu.
    Kurang dari 35 menit waktu yang kami miliki untu bersiap-siap. Aku segera mengemasi barang-barang bawaan begitu juga ibu. Perjalanan ke stasiun akan memakan waktu sekitar 20 menit jika lancar. Karena itu kami harus bergegas.
    “Tidak sholat dulu ta In?” Tanya ibu
    “Di stasiun aja bu. Yang penting kita nyampe stasiun dulu, jadi bisa tenang sholatnya” menyetujui pendapatku, kamipun segera bergegas menuju stasiun. Seharusnya sekarang memang masih saatnya Sholat Jumat, tapi bukan berarti tidak ada angkutan ke stasiun. Keluar dari gang kami langsung mencegat angkot dengan inisial AL yang nanti akan melewati stasiun kereta api. Jam di telepon seluler sudah menunjukkan angka 12.20 tapi sang supir angkot dengan santainya mengemudikan mobil berwarna biru itu seperti mobil wisata di Taman Safari, pelan-pelan. Kami tidak punya hak untuk protes, jadi kami hanya bisa berdoa agar keretanya mengalami keterlambatan atau penundaan keberangkatan, jadi rencana kami dapat berjalan lancar.

Jumat, 4 September 2009 : 12.40 WIB
    “Mbak kereta penataran ke Surabaya sudah berangkat belum mbak?” tanyaku pada petugas di loket tiket. Wanita muda di balik kaca itu hanya mengutarakan kalimat singkat “belum” dengan muka masamnya.
    “2 mbak” seruku kemudian sambil mengambil uang di dompet. Tanpa ekspresi, tanpa Tanya panjang lebar lagi wanita itu menyetempel 2 buah tiket dan memberikannya padaku. Sambil mengambil uang yang aku sodorkan di lubang berbentuk busur di bagian bawah kaca yang menjadi pembatas kami itu. Tidak ramah memang. Tapi yah, seperti itulah pelayanan public. Mungkin dia sudah terlalu capek seharian menghadai ratusan orang yang membeli karcis di loker tersebut. Jadi aku juga tidak banyak komentar.
    Aku dan ibu segera memasuki bagian dalam stasiun. Cukup ramai seperti biasanya. Kereta api memang alat transportasi yang paling bersahabat untuk masyarakat. Terlebih lagi kereta api ekonomi. Meskipun berdesak-desakan, bau, panas, dan berisik, namun alat transportasi ini tetap menjadi idola masyarakatnya. Terbukti dari sekian kali  aku menggunakan kereta api untuk berpergian, selalu saja gerbong-gerbong besi itu dijejali manusia dan segala macam bawaannya. Jadi menurutku kesimpulan di atas cukup terbukti untuk sekedar pengalaman pribadiku.

Jumat, 4 September 2009 : 13.20 WIB
    Aku telah selesai sholat dzuhur. Seperti dugaanku, keretanya telat. Sudah jam 1 lewat tapi kereta yang dinanti-nanti tersebut belum diberangkatkan. Gerbong-gerbong yang sudah bersiap di rel tua itu sudah penuh terisi manusia, namun sang lokomotif penggerak rangkaian kereta api itu belum siap terpasang di ujung paling depan kereta api penataran tersebut.
    “Teeett….tettt…..jess jesss….” Sebuah lokomotif dengan 1 gerbong tambahan mulai merapat ke bagian kereta yang sudah siap berangkat tersebut.
    “Ibu ayo, keretanya mau berangkat” aku bergegas berlari menghampiri lokomotif yang baru saja datang tersebut. Aku sangat tidak ingin menjalani perjalanan yang cukup jauh ini dengan berdiri dan berdesak-desakan. Paling tidak ibu harus dapat tempat duduk.
    Aku menoleh ke belakang, dan kulihat ibu sedikit berlari mengejarku yang sudah jauh di depannya. Aku berdiri di tepi rel, menunggu gerbong terdepan tersebut merapat pada gerbong lainnya. Ibu sudah sampai di sebelahku. Kami bersiap-siap. Naik ke atas kereta dapat menjadi sebuah perjuangan di hari yang terik dan gerah ini. Semua orang akan berlomba naik terlebih dahulu untuk memperoleh kursi yang telah dibayarnya dengan harga Rp 5.000,00 untuk sampai di Surabaya.
    “Ciiittt…..jess…jesss…” yap gerbong sudah tersambung. Penumpang yang sudah berjajar menantinya segera berlomba untuk naik ke atas kereta, tak terkecuali aku dan ibuku.
    “Ayo bu..” lekas-lekas kudorong ibu untuk naik terlebih dahulu. Setelah ibu sudah berada di atas kereta, akupun segera menyusulnya. Gerbong tambahan ini lumayan sepi. Kami langsung memilih tempat duduk terdepan yang hanya berselang 3 tempat duduk dari pintu gerbong.
    “Alhamdulillah sepi..”seru ibu. Aku hanya tersenyum lega.
    “Lho obatmu tadi sudah dibawa khan?” aq tersentak dengan pertanyaan tiba-tiba itu. Aku menggeleng.
    “Lupa bu..”
    “Lho gimana seh. Ibu ambil bentar ya, ngojek”
    “Tidak perlu bu, mana ada ojek? iik dah gak sakit gini lho. Ini keretanya sudah mau berangkat. Nanti khan bisa beli di Bangil.”
    “Hadooh, nanti ibu dimarahi bapak ini. ibu ambil bentar ya…nanti ibu nyusul naek bis. Iik berangkat saja sekarang”
    “Tidak usah bu…” aku berusaha meyakinkan ibu untuk tidak merisaukan masalah obat lagi. Tapi beliau masih saja mengomel. Huh…..bawelnya. Akhirnya ibu bisa tenang setelah bertemu saudaraku yang kebetulan bekerja di stasiun tersbut. Masalahnya, aku sedang bermasalah dengan ‘saudara’ jauhku itu. Menyebalkan sekali pada akhirnya meminta tolong padanya. Hari yang panas dan menyebalkan.
    “Jess jess…..tuutt…tuut…jess….” kereta api mulai bergerak meninggalkan Stasiun Kota Baru Malang. Aku menutup mataku. Tidur. Hari ini menyebalkan.

Jumat, 4 September 2009 : 13.45 WIB
    “Ciiitt…jegrek….” Aku merasakan kereta api tua itu berhenti. Kulihat sekeliling. Stasiun Singosari. Penumpang-penumpang baru mulai berlomba-lomba naik ke atas kereta. Sepenuh apapun kereta api ini, penumpang-penumpang histeris itu akan tetap naik ke atas kereta.
    Aku melirik kearah ibu yang duduk di kursi depanku. Hari ini memang tidak sepenuh biasanya. Paling tidak di gerbang pertama ini penumpang  bisa duduk dengan leluasa.
    “Tuuut…tuuuttt…..jess jess jesss…..” pemberhentian pertama telah selesei. Kereta kembali melaju menuju stasiun berikutnya. Untuk sampai di Kota Bangil, paling tidak kereta ini akan melewati 5 stasiun kecil sepanjang perjalanannya.
    Aku melemparkan pandanganku keluar jendela. Kereta melewati persawahan. Padi-padi mulai menguning siap dipanen. Sebagian petak sawah sudah selesai dipanen dan sedang menanti penggarapan selanjutnya.
    “Tuuutttt…….jesssjesss…” kereta hari ini melaju dengan sangat kencang sekali. Aku pernah naik kereta bisnis, Malang Ekspress, dan kecepatannya memang berbeda dengan kereta ekonomi Penataran. Tapi kereta penataran kali ini benar-benar berada dalam kecepatan tinggi. Aku melihat pada ibu yang tubuhnya bergoncang ke kanan dan ke kiri akibat efek guncangan kereta api yang melaju dengan kecepatan tinggi di atas rel. Wanita dengan perawakan pendek itu melihat padaku dan melemparkan senyumnya. Aku  hanya membalas senyumnya datar.
    “Ciiiiit……ciiittt…..”
    Tiba-tiba kami merasakan masinis kereta api mengerem laju kereta api yang kami naiki tersebut. Sempat kulihat ibu menggigit bibir bagian bawahnya dan matanya mengguratkan ketakutan dengan tangannya mencengkeram pegangan kursi kereta api.
    “Ciiit…..” tidak lebih dari 2 detik saja kulihat wajah panik ibu itu saat tiba-tiba duniaku berubah gelap.

Jumat, 4 September 2009 : 13.50 WIB
    “BRAKKK”
    “Astagfirullah hal adzim”
    Aku membuka mata. Sebuah kaki menginjak lenganku. Aku mencoba mengumpulkan kesadaranku. Kuatur nafasku yang kupikir sudah berhenti. Orang-orang histeris. Anak-anak kecil menjerit. Berbagai barang, tas, kardus, berserakan. Terdengar dari arah sana erangan kesakitan yang memilukan. Kucoba berdiri bertumpu pada kakiku yang gemetaran. Kulihat sekeliling.
    “IBU!!” sontak aku panik saat aku teringat akan ibu.
    “Ibu, ibu dimana? Ibu” aku berteriak memanggil ibu. Kutelisik gerbong yang terguling itu dengan pandangan nanar mencari sosok ibu. Tempatku berdiri ini sudah jauh dengan tempatku duduk tadi. Sepertinya aku terlempar cukup jauh. Seharusnya ibu tidak jauh-jauh dari tempatku berada sekarang.
    “IBU!! Astagfirullah Hal Adzim ibu” aku melihat ibu terduduk, bertumpu pada lulut dan tangannya di seberang tempatku berdiri saat ini. Rambutnya yang sudah tak hitam lagi tergerai dan darah mengucur dari mulutnya.
    “Ibu..!!” aku berlari menghampirinya. Tak kupedulikan pecahan kaca yang serasa menusuk-nusuk kakiku.
    “BRAKK!”dengan sigap aku menahan tumpukan kursi yang jika telat 1 menit saja aku terlambat, maka kursi yang terbuat dari rangka besi itu akan menimpa tubuh kecil ibuku.
    “Astagfirullah hal adzim…astagfirullah hal adzim….” Kudengar ibu melantunkan istigfar sepenuh hatinya. Kurasakan tumpukan kursi itu semakin berat menghimpitku lantaran seorang pemuda yang dengan sangat tidak berperasaannnya naik ke atas kursi itu untuk mengambil sandal jepit yang mungkin kepunyaannya. Aku hanya memandangnya sesaat tanpa berkomentar.
    “Ibu, ayo bangun bu…” tangan kananku berusaha menarik tubuh lemah ibuku dari genangan lumpur dan darah di bawahnya.
    “Tanganku patah ini in…. “ kulihat pergelangan tangan kanan ibuku bengkok.
    “Ya Allah, sabar ya bu… kita keluar dulu dari sini. Sabar ya bu…” aku memapahnya berdiri, dan segera aku bergeser dari tumpukan kursi yang lumayan berat itu saat ibu sudah terevakuasi.
    “Heh, ayo buka, dorong!!” orang-orang berusaha mencari jalan keluar dari gerbong tumpah tersebut. Para laki-laki mencoba sekuat tenaga membuka pintu gerbong yang sudah terkoyak dan sulit untuk dilewati. Beberapa orang hanya duduk pasrah menahan sakit yang menderanya, yang lain kebingungan mencari barang-barangnya, tak terkecuali aku.
    “Bu, tunggu sebentar di sini ya, iik cari tas kita tadi.” Aku segera mencari tas-tas yang tadi kami bawa, termasuk sebuah tas berisi laptop kepunyaanku. Yap sudah kudapatkan semua. 2 buah tas berisi baju, 1 buah tas laptop, dan 1 buah kresek berisi makanan. Kupanggul dan kujinjing tas-tas tersebut sambil memapah ibu. Kamipun bergegas berusaha keluar untuk mendapat pertolongan.
    Sepatuku hilang entah kemana dan aku menapaki dinding kereta api yang kini menjadi lantai kereta api. Sorang pria paruh baya mengerang kesakitan lantaran tangannya terjepit di bawah jedela kereta api. Seorang pria lainnya dengan sigap menggali tanah disekitar tangan pria yang terjepit itu agar dapat mengeluarkan tangan pria malang itu.
    “Ibu jangan liat” aku memalingkan muka saat melewati pria malang tersebut.
    Untuk keluar dari gerbong tersebut merupakan sebuah perjuangan besar lainnya. Pintu kereta api dalam keadaan normal berlapis dua, yaitu pintu yang menempel pada gerbong dan pintu pada sambungan gerbong. Dalam keadaan terguling seperti ini pastinya akan sangat sulit keluar dari pintu-pintu besi tersebut, apalagi ibu dalam keadaan terluka.
    “Pak tolong ibu saya ya pak, tangan ibu saya sepertinya patah” pintaku pada beberapa orang pria yang membantu proses evakuasi di pintu gerbong.
    “Iya mbak. Mbak keluar saja dulu, ibunya pasti kita tolong kok” jawab seorang bapak yang yang memegangi pintu bagian atas sehingga para korban yang berada di dalam gerbong dapat keluar dengan lebih mudah.
    Rambut pendekku tertiup angin. Entah kemana jilbab yang kupakai tadi. Aku sudah tidak peduli. Di depanku orang-orang menatap iba dari kejauhan. Bau lumpur yang basah, suara rintihan dan erangan pilu, hiruk piku manusia yang larut dalam kepanikan, kepalaku pusing dan tiba-tiba perutku jadi mual. Tubuhku masih gemetar dan masih belum dapat menerima kenyataan ini. Bagaimana mungkin semua ini menimpaku.
    “Aduh …” aku terbangun dari ketidaksadaran sesaatku melihat ibu diturunkan oleh beberapa orang dari pintu gerbong.
    “Ayo bu” Aku memapah ibu yang sudah berhasil dikeluarkan dari gerbong yang guling di atas sawah tersebut. Tanpa alas kaki kami menapaki sawah yang berlumpur menuju tumpukan damen yang berjarak sekitar 5 meter dari gerbong tersebut.
    “Ibu tahan ya sakitnya, sebentar lagi pertolongan datang” aku mengelus punggunggnya mencoba untuk menenangkannya. Tak setetespun air mata keluar dikucurkan oleh ibuku itu. Meskipun darah terus mengucur dari dagunya, ia tetap tegar dan hanya menahan sakitnya sendiri. Air mataku mulai mengalir deras. Pilu merasuki jantungku.
    “Ya Allah, kenapa Kau dera ibuku Ya Allah.. Kenapa tak sedikitpun cidera Kau torehkan untukku…kenapa harus ibuku yang Kau berikan luka Ya Allah…kenapa…”
    “Aduh in, tangannya ibu patah ini, bagaimana ini…” ratapan ibu itu semakin memilukan hatiku. Air mataku terus mengucur tak terbendungkan.
    “Istigfar bu….istigfar…..”ujarku lirih.
    Ratusan orang sudah mengerubungi tempat anjloknya kereta api tersebut. Sebuah terpal digelar di dekat gerbong yang terguling keluar dari rel lintasannya. 3 orang laki-laki berbaring disana. Seorang laki-laki berlumuran darah di bagian kaki dan tangannya. Seorang yang lain perutnya terluka, dan seorang lagi tak sadarkan diri. Tak lama kemudian bapak yang tangannya terjepit di dalam gerbong tadi turut dibaringkan di terpal tersebut.
    Orang-orang dilanda kepanikan, semua saling menghubungi sanak keluarga untuk memberikan kabar dan meminta pertolongan. Beberapa orang polisi datang untuk membantu proses evakuasi, dan tak sedikit orang yang justru sibuk mengambil gambar dan merekam bencana tersebut.
    “Mbak ini buat membersihkan darahnya ibu” seorang laki-laki memberiku sebotol facetonic dan kapas untuk membersihkan darah yang mulai mongering di dagu ibu.
    “Terima kasih pak” ujarku sambil menerima pemberiannya itu. Laki-laki itu segera beranjak meninggalkan kami dan menolong korban lainnya. Segera kutuangkan cairan pembersih itu pada selembar kapas dan menyeka darah yang belepotan di wajah ibuku.
    “Bu, tahan ya, mungkin agak perih..” ujarku sambil mengoleskan kapas tersebut perlahan. Ibuku mengatupkan matanya menahan perih, dan air mataku kembali mengalir.
    “Ya Allah…. Mimpi apa aku semalam….rencana apa yang Kau buat di balik semua tragedi ini Ya Allah…”

Jumat, 4 September 2009 : 20.30 WIB
    Aku duduk bersimpuh berlinang air mata dengan balutan mukenah putih yang kupinjam dari seorang keluarga pasien yang lebih dahulu menempati kamar tempat ibuku dirawat. Sudah 1 jam berlalu sejak ibuku masuk ruang ICU. Dokter bilang operasinya berjalan lancar, dan sekarang ibu harus menjalani fase pasca operasi di ruang ICU.
    Rombongan tetangga dan keluarga silih berganti datang menjenguk. Bapak juga sudah datang bersama rombongan pertama. Rumah kami di daerah Mojokerto, tapi rasa kekeluargaan yang tinggi antar masyarakat di desa memungkinkan para keluarga dan tetangga menempuh jarak yang jauh untuk sekedar menengok keadaan ibuku.
    Para keluarga dan tetangga yang menjenguk sudah pulang. Bapak baru saja meninggalkan musallah setelah sholat isya’ berjamaah denganku. Aku masih ingat wajah sayu dan khawatirnya saat tiba di rumah sakit tadi. Bapak pasti khawatir pada istrinya yang tanpa disangka-sangka harus menjalani operasi akibat kecelakaan kereta api. Kalimat pertamanya saat bertemu denganku tadi adalah “Kamu tidak apa-apa nak?” dan saat itu air mataku mulai berderai.
    Aku tidak apa-apa.
    Tubuh besar bapak memelukku. Kulitnya coklat gelap dan sarat akan gurat-gurat kelelahan yang mencerminkan betapa keras perjuangan hidupnya yang dipenuhi kerja keras di sepanjang hidupnya. Aku memeluknya erat-erat. Wajah tegasnya tidak bisa menyembunyikan besarnya rasa khawatirnya pada ibu yang saat ini terbaring di ruang ICU.
    “Kok bisa seh Mbak, bagaimana ceritanya tadi “ Tanya seorang pamanku yang datang bersama rombongan bapak. Aku menceritakan peristiwa itu ala kadarnya sementara kakak pertamaku yang sudah datang terlebih dahulu sedang bernegosiasi dengan perawat yang menjaga ruang ICU untuk memperbolehkan bapak masuk melihat keadaan ibu. Tak lama kemudian bapak diperbolehkan memasuki ruang ICU. Hanya bapak seorang, tanpa disertai yang lain.
    “Syukur ya mbak, kamu tidak apa-apa, jadi bisa membantu ibu..” ujar tanteku yang lain. Aku hanya tersenyum datar.
    Aku tidak apa-apa.
    “Subhanallah….” Aku mengusap air mataku pedih. Saat ini ibu sedang terbaring lemah di ruang ICU. Tangan kanannya dipasang pen sepanjang tidak kurang dari 5 cm. Di dagunya ada 2 jahitan karena terdapat luka menganga pada kulit arinya. Bagian bawah dada sebelah kanan memar dan mengeras akibat terbentur benda tumpul secara keras. Ibu pasti kesakitan. Tapi beliau hanya diam menahan deranya.
    Aku tidak apa-apa.
    “Ya Allah….Ya Goffar…” air mataku semakin deras mengucur. Di dalam ruangan yang gelap tanpa penerangan itu, kutadahkan tanganku pada langit. Dengan suara serak aku meratap kepada Yang Maha Berkehendak.
    “Ya Allah kenapa Kau patahkan tangan ibuku sementara tak sedikitpun ngilu Kau berikan padaku, kenapa Kau kucurkan darah dari wajah ibuku sementara tak secuilpun luka menggores kulitku, kenapa Kau jadikan lebam dan membiru tubuh ibuku sementara tidak ada satupun benda-benda menghantam tubuhku…Ya Allah,…Ya Goffar…”
    “Ya Allah…Ya Rahim…apa dosa ibuku hingga Kau dera ia dengan pilunya, bukankah ia begitu taat beribadah pada-Mu Ya Allah, bukankah ia begitu tawaddu kepada bapak, bukankah ia begitu baik mengasuh anak-anaknya, bukankan ia sangat amanah menjaga hubungan dengan sesama manusia, Ya Allah…apa dosa ibuku hingga Kau memperingatkannya dengan cobaan ini Ya Allah…Ya Goffar…”
    Aku tidak apa-apa.
    “Ya Allah…Ya Goffaar….” Air mataku semakin deras dan hatiku semakin perih menerima kenyataan bahwa aku tidak apa-apa.
    “Ya Allah…kenapa aku Kau selamatkan tanpa cidera sedikitpun? Kenapa aku Kau lindungi dari dera yang Kau berikan pada ibuku?! Bukankah aku sudah terlalu jauh meninggalkan-Mu, bukankah sudah bertumpuk dosa yang aku perbuat dengan sadarku, bukankah aku ini hamba-Mu yang sangat hina Ya Allah….Ya Allah..kenapa?”
    “Ya Allah apakah ini bentuk teguran yang Kau berikan padaku? Apakah dengan memberikan dera pada ibuku Kau menegurku untuk segera bertobat ke hadapan-Mu? Tapi mengapa harus sepilu ini teguran yang Kau berikan padaku Ya Allah? Kenapa harus melalui ibuku Ya Allah…Ya Goffaar….”
    “Kenapa bukan aku langsung yang Kau dera? Kenapa tidak Kau patahkan saja tangan dan kakiku yang menjadi saranaku berbuat maksiat? Kenapa tidak kau celakai tubuh dan wajahku yang sering kugunakan untuk menyakiti sesamaku dengan kesombonganku? Kenapa tak Kau koyak saja hatiku yang penuh rasa dengki dan iri hati ini Ya Allah…kenapa Kau sakiti ibuku?”
    “Ya Allah….Ya Dal Jalaa Liwal Ikrom….rencana besar apa yang ada di balik semua ini”
    Ibu, merugi sekali engkau mempunyai anak yang tidak berguna seperti aku, yang bacaan Surat Yasin saja aku tidak hapal, yang doa-doa untuk kesembuhanmu saja aku tidak tahu, yang bahkan tidak bisa lama-lama berdoa dan berdzikir seperti yang selalu engkau lakukan di setiap malam bersama bapak. Aku hanya bisa meratapi dosa dan menghujat kenyataan akan semua musibah ini.
    Aku menyeka air mataku. Mataku panas karena terlalu banyak menangis, hidungku buntu dan tenggorokannku sakit. Aku hanya bisa mengulang-ulang bacaan Asmaul Husna untuk memohon perlindungan bagi ibuku yang sedang melewati masa kritisnya di ruang ICU. Saat itu aku sangat malu akan diriku sendiri.
    “Ibu, seandainya aku adalah seorang anak sholeha seperti yang kau harapkan, paling tidak aku akan tahu apa yang harus kulakukan saat ini..”

Sabtu, 5 september 2009 : 06.35 WIB
    Tirai jendela ruang ICU terbuka pagi ini. Sejak operasi kemarin, ini kali pertama aku bertemu ibu. Sudah sejak tadi subuh aku menanti perawat membuka tirai ini dan terus menunggu di luar jendela ruang ICU. Aku tidak mau saat membuka matanya dan melihat keluar jendela nanti, ibu tidak menemukan siapapun yang menanti disampingnya.
Tempat tidur ibu berada tepat di sisi yang paling dekat dengan jendela tersbut, jadi kami bisa melihatnya dengan jelas dari luar. Aku melihat wajah sendu ibu yang berbaring lesu dari balik kaca tebal yang memisahkan kami. Seulas senyum tersungging di wajahku ketika ibu menoleh kearahku. Aku melambaikan tangan padanya.
“Semoga ibu lekas sembuh” ujarku lirih.

-    Selesai   -
Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Unordered List

  • Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit.
  • Aliquam tincidunt mauris eu risus.
  • Vestibulum auctor dapibus neque.

Popular Posts

Diberdayakan oleh Blogger.

Text Widget

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation test link ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.

Duis aute irure dolor in reprehenderit in voluptate another link velit esse cillum dolore eu fugiat nulla pariatur.

Mengenai Saya

Entri yang Diunggulkan

Story from HOUR...

So, Let's check it out..^^ Saya mencintainya saja dan TIDAK memilikinya Bukan berarti saya LEMAH Bukan karena ketidak PANTAS an ...

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Pengikut

STATISTIK BLOG

Cari Blog Ini

Contact Us

Our Company Inc.
Jalan Gunawan Kec Tajinan
Kab Malang 65172
Phone: 1234-5678-90
Fax: 565-478-1445
Website: khazin2.blogspot.com

Facilisis rutrum! Maxime corporis accusamus inceptos quibusdam fugit porttitor consectetur.

Theme Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.

Unordered List

  • Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit.
  • Aliquam tincidunt mauris eu risus.
  • Vestibulum auctor dapibus neque.

Recent Posts

Random Products

Popular Products

Unordered List

  • Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit.
  • Aliquam tincidunt mauris eu risus.
  • Vestibulum auctor dapibus neque.

Pages

Theme Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.